TAman BAcaan NASional

Pantang Menyerah-Part 1

Karya: Gu Long.  Oleh: Tjan I.D.

Kota metropolitan

I.

“Beep, beep”

Suara klatson mobil berbunyi nyaring.

“Bibie” juga nama seorang gadis muda.

Tak ada yang tahu kenapa dia pilih sebutan itu sebagai nama sendiri, mungkin saja karena ia senang dengan bunyi suara itu, mungkin juga karena dia sangat mirip dengan sebuah mobil.

Bahkan kadangkala dia lebih mirip dengan sebuah mobil tanpa chasis.

Sebuah mobil meluncur lewat melalui sisi badannya, meluncur lewat sangat cepat. “Beep, beep!”

Dia mulai tertawa, dia merasa amat riang, amat gembira….

Banyak sekali mobil yang hilir mudik di kota ini, setiap mobil seakan sedang memanggil namanya, seakan sedang menyambut kedatangannya.

Tahun ini dia berusia sembilan belas, satu malam sebelum hari ini, dia hanya pernah melihat sebuah mobil.

Waktu itu dia sedang berjalan menuruti sebuah bukit, “Beep. Beep” kebetulan sebuah mobil sedang lewat menuruni jalanan itu, andaikata dia tidak menghindar dengan cepat, nyaris badannya tertumbuk.

Dia sempat mendengar seorang gadis berpita kuning sedang mengumpat dari dalam mobil.

Kelihatannya budak liar ini masih belum tahu kalau dia bisa mati bila tertabrak mobil.

Bibie tidak marah, dia justru lebih gembira, lebih riang, karena pada akhirnya dia dapat melihat sebuah mobil sungguhan.

Memandang kain pita kuning yang berkibar terhembus angin, pingin sekali dia seret turun orang itu dan menggantikan posisinya.

Ia bersumpah, cepat atau lambat suatu hari dia pun bisa naik sebuah mobil, persis seperti gadis berpita kuning itu.

Bedanya, kalau ada orang yang nyaris tertubruk oleh mobilnya, bukan saja dia tak akan mengumpat orang itu bahkan sebaliknya dia akan turun dari mobil dan membangunkan orang itu.

Sebab itulah dia datang ke kota metropolitan.

Sudah lama ia dengar kota ini merupakan kota metropolitan terbesar di Republik ini, kota dengan mobil terbanyak, tentu saja akan memberi kesempatan yang lebih besar baginya untuk naik mobil. Tapi semuanya ini bukan alasan utama baginya untuk kabur dari desa kelahiran.

Alasannya yang paling utama adalah dia harus menemukan kembali ayahnya.

Di desa kelahiran, Tio toaya sudah dianggap seorang kenamaan yang mempunyai pengalaman unik.

Ada orang mengatakan dia sudah jadi seorang Boss mafia dari sekawanan bule, ada yang bilang dia sudah jadi toa tauke di kota metropolitan, bahkan ada yang bilang dia sudah terlibat perdagangan narkotik dengan orang luar negeri.

Apa pun pekerjaannya, yang pasti Tio toaya sudah kaya raya, Tio toaya sudah jadi seorang milyader dan hal ini tak bisa dipungkiri.

Tiap tahun, Tio Toa-nay-nay (nyonya besar Tio) selalu menerima kiriman selembar cek dengan nilai nominal yang besar sekali, kecuali itu pada hakekatnya dia tak pernah melihat bayangan tubuh suaminya.

Semenjak lahir di dunia ini, Bibie baru empat-lima kali berjumpa dengan ayahnya.

Dia masih ingat, ayahnya paling senang memakai baju ma-kwa dengan sebatang cerutu menempel dimulutnya, dia mempunyai sepasang kumis yang rapi, wajahnya garang tapi tampan dan sangat berwibawa.

Dia percaya, berada ditempat dan keadaan seperti apa pun, ayahnya pastilah seorang tokoh masyarakat yang luar biasa.

Menemukan jejak seorang Tokoh besar rasanya tak akan terlalu sulit, itulah sebabnya dia datang.

II.

Lampu gas masih memancarkan sinarnya dengan terang.

Mengapa cahaya yang dipancarkan lampu gas selalu nampak begitu indah, begitu memukau hati?

Bibie merasa gembira, merasa amat senang.

Dalam hati dia berpikir:

“Kini aku sudah datang, apa pun yang bakal kualami, aku tak pernah akan menyesal!”

Sayang, terlalu dini ia mengucapkan kata kata tersebut.

III.

Tiba tiba….. yang terlihat kini hanya bintang yang bertaburan di angksaa.

Ke mana perginya mobil mobil itu? Ke mana larinya lampu lampu gas itu?

Tiba tiba Bibie menemukan dirinya telah tiba di sebuah tempat yang terasa lebih asing, lebih menarik……

Kini dia telah berhadapan dengan sungai Yang-cu-kang, sungai Yang-cu-kang yang begitu luas, begitu lebar bagai bentangan sebuah samudra bebas.

Pertama kali ini dia melihat perahu, banyak jenis perahu berlabuh disitu, ada yang besar ada pula yang kecil.

Perahu itu berlabuh diujung dermaga, dalam kegelapan malam, dermaga selalu menampilkan suasana yang gelap, seram dan menggidikkan hati.

Banyak sekali kargo yang bertumpukan disekeliling dermaga, pelbagai bungkusan, kardus, drum berserakan dimana mana. Sebuah jangkar besi yang amat besar tergantung di awang awang, nyaris mirip dengan sebuah rembulan..

Rembulan pun berbentuk bagai sebuah jangkar….

“Apa isi karung karung itu? Boleh kulubangi sedikit dan melihat isinya?”

Di dunia ini memang terdapat sejenis orang yang segera akan melakukan apa yang terpikir olehnya, tak ada orang yang bisa mencegahnya, bahkan dia sendiri pun tak bisa mengendalikan diri.

Bibie adalah jenis manusia macam ini.

Baru saja dia akan mencari sebuah benda yang dapat digunakan untuk melubangi karung goni itu, tiba tiba terdengar semacam suara yang aneh sekali.

Suara itu mirip derapan kaki kuda yang sedang berlarian diatas lumpur, mirip juga suara seorang tukang jagal yang sedang mengerati kulit dan daging.

Suara aneh itu datang dari sisi kanan, tepatnya di belakang sederet drum drum air.

Buru buru dia lari mendekat, mengintip dari balik drum, apa yang kemudian terlihat membuatnya tertegun, dia telah menyaksikan sebuah peristiwa yang selama hidup, biar sedang mimpi pun belum pernah terbayang.

Dibalik tumpukan peti kayu hadir dua tiga puluhan manusia, hampir semuanya memakai celana panjang dengan baju ketat, ada yang sedang menggengam pisau pendek, ada pula yang memegang lampu senter yang besar lagi panjang.

Suara aneh yang terdengar olehnya muncul dari sana, suara pisau yang sedang menembusi daging, mata kampak yang sedang membelah tulang dan suara lampu senter yang sedang menghantam kulit kepala.

Kawanan manusia itu pada hakekatnya bukan manusia, mereka adalah binatang, bahkan jauh lebih kejam, jauh lebih sadis daripada kawanan hewan.

Biarpun pisau pisau itu sedang menusuk ke dalam daging, biarpun mata kampak sedang membelah diatas tulang belulang, namun tak kedengaran suara orang yang merintih, tak terdengar orang mengaduh atau menjerit kesakitan.

Mengapa orang itu menyerah begitu saja? Biar sudah roboh terkapar, ia masih punya kesempatan untuk melakukan perlawanan, mengapa orang itu tidak berusaha melawan? Tidak berusaha bertahan?

Benarkah mereka adalah sekawanan manusia?

Kalau manusia, mengapa mereka begitu kejam, begitu keji, begitu sadis?

Bibie tidak habis mengerti, saking terkejut dan ngerinya ia sudah tertegun mematung disitu.

Dia tak tega untuk menyaksikan lebih lanjut, tiba tiba ia menerjang keluar dari tempat persembunyiannya, berteriak dengan menggunakan segenap kemampuan yang dimilikinya.

“Kalian kawanan bangsat, hentikan perbuatan kejimu!”

Dalam waktu singkat kampak yang sudah diangkat tinggi tinggi segera terhenti, pisau yang baru saja menusuk ditarik balik, sinar lampu senter menyala menerangi sekeliling tempat itu.

Ada tujuh delapan buah cahaya lampu senter menyorot langsung di tubuh Bibie.

Cahaya yang tajam membuat Bibie merasa amat silau, membuat matanya tak dapat dipentang lebar, biar begitu dadanya tetap dibusungkan, dadanya dibusungkan tinggi tinggi.

Ada berapa cahaya lampu senter mulai bergeser, sengaja menyinari dadanya yang dibusungkan tinggi tinggi itu.

Ia tak bisa melihat bagaimana perubahan mimik muka orang orang itu, dengan sebelah tangan melindungi matanya, kembali teriaknya dengan suara yang tinggi melengking macam pemeran opera sedang bernyanyi:

“Sudah begini malam kenapa kalian tidak pulang ke rumah dan tidur? Kenapa masih main bacok di sini?”

Mereka yang menggenggam kampak, mereka yang baru saja dibacok, mereka yang menggenggam pisau, mereka yang baru saja tertusuk, bahkan mereka yang babak belur lantaran dimakan bogem mentah serentak tertegun, melengak oleh teriakan itu.

Seandainya dunia ini benar benar sebuah dunia yang bisa makan manusia, mereka lah makhluk paling ganas yang gemar makan manusia.

Ketika darah mereka bercucuran membasahi tubuh, ketika mereka beradu nyawa, bermain golok, bukan saja tak pernah mengeluh, mengernyitkan dahi pun tak pernah.

Tapi sekarang, mereka mulai mengernyitkan dahi.

Seorang lelaki penuh cambang yang menggenggam sebuah kampak segera menegur nyaring:

“Sahabat, kau berasal dari aliran mana, mengapa harus menceburkan diri dalam air keruh ini?”

Bibie mulai tertawa, dalam keadaan begini tak nyana dia masih bisa tertawa.

“Aku bukan teman kalian, disini aku tak punya teman walau satu orang pun, aku pun tak sudi menceburkan diri didalam air keruh, kebetulan saja aku lewat disini, masa kalian tak bisa melihatnya?”

Orang lain memang tak bisa membedakan!

Budak ini memiliki wajah yang tidak terlalu jelek, bila berada dalam waktu biasa, setiap orang pasti tertarik untuk berkenalan dengannya bahkan mengajak ngobrol dengannya.

Tapi kini bukan keadaan yang biasa, saat ini adalah saat untuk beradu nyawa, beradu jiwa demi memperebutkan “barang” senilai seratus ribu dollar.

…………………………………………………

Barang yang bernilai dibawah seratus ribu dollar tak akan menarik perhatian si “Burung Jalak” untuk turun tangan.

Jika barang itu bernilai diatas seratus ribu dollar, maka biarpun tahu kalau barang itu adalah milik “Lo-pat-ku”, dia akan tetap beradu jiwa untuk mendapatkannya.

“Burung jalak” bisa bercokol selama ini karena sewaktu bertarung untuk merebut lahan, mereka betul betul berani adu nyawa!

Oleh sebab itulah ketika mereka sedang beradu nyawa, biar ada orang punya nyali yang benar benar tumbuh bulunya juga tak akan berani mencampuri urusan mereka.

Arti dari ”Lo-pat-ku” bukan berarti mereka semua terdiri dari orang orang kuno yang bersifat konserfatif, tapi lebih ditekankan bahwa mereka semua adalah tokoh tokoh lama yang punya akses kuat disekitar tempat itu.

Bicara sejujurnya, perkumpulan Lo-pat-ku memang merupakan sisi gelap dari kota metropolitan ini, mereka termasuk sebuah kekuatan yang sangat menakutkan, pengaruh mereka mengerikan.

Dunia mereka dirintis dan dibangun oleh delapan orang benggolan.

Dari delapan orang lambat laun pengaruh mereka makin mekar jadi delapan puluh orang, derlapan ratus orang……………

Kini dari delapan orang lo-enghiong yang menjagoi kolong langit tinggal tiga orang yang masih hidup, biar mereka sudah setengah pensiun namun sebagian besar pelanggaran hukum yang terjadi di kota metropolitan ini masih berada dalam genggaman mereka, dalam cengkeraman kuku macan mereka.

Mereka mempunyai delapan orang murid andalan yang disebut “Toa-pat-ku”, lelaki bercambang itu tak lain adalah Cing Oh-cu si berewok hijau Lo-lak, orang ke enam dari komplotan itu.

Orang itu seperti juga dengan kampak miliknya, selalu tajam, sadis, telengas dan paling suka membacok diatas ruang tulang orang.

Sekaraang pun dia ingin sekali mengayunkan kampaknya, membacok persis diatas ruang tulang budak cilik ini.

“Kau benar benar hanya kebetulan lewat?”

Bibie mengangguk.

“Kau datang dari mana? Mau ke mana?”

“Datang dari tempat aku datang dan pergi ke tempat aku akan pergi!” Bibie menjawab sambil mengangkat tinggi kepalanya, dia anggap jawaban tersebut sangat hebat dan tepat.

“Kalau begitu kau pun termasuk orang yang pernah dua hari berkelana dalam sungai telaga?” tegur Cing Oh-cu sambil tertawa dingin.

“Siapa bilang hanya dua hari?” nada suara Bibie semakin meninggi, “biar ada seribu gunung selaksa samudra, aku pun akan melaluinya seorang diri”

Gadis ini memang tidak mengibul, dia tak perlu membual.

Untuk berjalan dari desa kelahirannya sampai ditempat itu, dia memang perlu berjalan sampai berhari hari lamanya, dalam pandangannya, perjalanan jauh itu sudah setara dengan seribu gunung selaksa samudra.

Paras muka Cing Oh-cu berubah makin serius, makin berat. Siapapun tahu, tanpa menggembol kepandaian yang memadahi, tak mungkin seorang bocah perempuan berani menembusi sungai telaga seorang diri.

Orang kangou memang punya peraturan khusus menghadapi orang kangou yang lain, mereka mempunyai tata cara, punya tata krama yang harus ditaati.

“Boleh tahu nona berasal dari aliran mana?”

“Aliran? Jalan air pernah kulewati, jalan kering juga sering kulewati”

“Oh, tampaknya nona sedang kekurangan bekal?”

“Bekal?? Aku masih punya bekal, tak perlu kau kuatirkan” sahut Bibie sembari menepuk tujuh dollar uang kertas yang tergembol disakunya.

Kini paras muka Cing Oh-cu sudah berubah jadi hijau membesi.

“Jadi nona ingin menguntal barang ini seorang diri?” serunya.

“Itu mah harus kuperiksa dulu barang apaan itu!” lagi lagi Bibie tertawa, “terus terang aku memang mulai kelaparan sekarang, tak jadi soal bila kau ingin mentraktir sebutir telur ayam dulu untukku”

Budak perempuan ini lagaknya seperti mengerti seperti juga tak paham, diajak makan yang lembek kagak mau, diajak main keras juga kagak mau, entah dia berlagak bodoh atau memang bodoh beneran.

Garis garis merah mulai timbul dari balik mata Cing Oh-cu, dia mulai geram dan penasaran.

“Sebenarnya siapa kau?”

“Aku bernama Bibie”

“Bibie?”

“Benar, Bibie, masa belum pernah dengar?”

“Belum pernah”

“Tentunya pernah melihat mobil bukan?”

“Mobil?”

Bibie menggunakan tangannya berlagak seperti sedang pegang kemudi mobil, kembali serunya:

“Beep, beep, Beeep, beeep……. minggir! Minggir! Mobilnya mau lewat, ayoh pada minggir…”

Apa apaan budak kecil ini? Sudah strip pikirannya atau dia memang sengaja mau permainkan kawanan bandit itu dengan guyonan konyolnya?

Kembali Bibie berkata sambil tertawa manis:

“Aku lah si mobil kecil itu, karena aku sudah datang maka kalian semua harus menyingkir, kalian tak boleh lagi bacok bacokan di sini”

Mobil kecil!

Ternyata budak perempuan ini menyamakan dirinya sebagai sebuah mobil kecil.

Entah siapa yang teriak dulua, tiba tiba terdengar ada orang meraung keras:

“Buat apa banyak ngebacot dengan budak busuk itu? Ayoh kita habisi dulu orang ini!”

“Eeh, belum cukup saling membacok antar teman, sekarang pingin menggebuki aku?” ejek Bibie sambil bertolak pinggang,

“Baiklah, akan kulihat siapa yang berani turun tangan duluan!”

Memang tak ada yang berani muncul untuk menyerang duluan.

Siapapun tak rela turun tangan duluan, mereka tak mau pihak lawan akan mengambil keuntungan dari perbuatannya itu.

Bibie makin bangga, kembali ejeknya:

“Naah, tak ada yang berani bukan? Kenapa kalian belum juga menggelinding pergi dari sini?”

Ia memang kelewat kekanak kanakan, jalan pikirannya kelewat polos, kelewat sederhana, tak ubahnya seperti pikiran anak kecil.

Tiba tiba Cing Oh-cu berbisik ke arah seorang pemuda berbaju putih yang berada disisinya:

“Oh losu, bagaimana menurut kau?”

Oh losu adalah orang ke empat dalam perkumpulan jalak hitam, dia bernama Oh Piau, wajahnya yang hijau agak putih kepucat pucatan, meski kelihatan seperti orang yang sedang mabuk namun pisau yang berada ditangannya dapat dimainkan amat cepat, tepat dan ganas.

“Menurut kau sendiri?” Oh Piau balik bertanya.

Dia jarang punya pendapat, biar punya pendapat pun teramat sangat jarang dikemukakan keluar.

“Kita sudahi dulu urusan antara dua partai kita, mari kita kerjain budak busuk itu lebih dulu!”

“Baik!” jawaban Oh Piau hanya sepatah kata.

Baginya sepatah kata sama artinya dengan serangkai kalimat pembicaraan!

Ucapan yang keluar dari mulut seorang anggota kangouw biasanya persis seperti sebatang paku yang ditancapkan diatas dinding rumah, sekali ditancapkan selamanya tak bisa digoyang kembali.

Tiba tiba saja Bibie menjumpai ada banyak orang sedang berjalan menghampirinya, mendekati dan mulai mengepungnya.

Entah dari mana datangnya sekilas cahaya lampu yang amat redup, bergerak lewat dari kejauhan, menyinari wajah orang orang itu.

Paras muka kawanan manusia itu seakan telah berubah jadi hijau menyeramkan, aliran darah diwajah mereka seolah turut berubah jadi hijau, hijau mennyeramkan.

Bibie masih berdiri sambil bertolak pinggang, namun rasa ngeri dan seram mulai timbul dihati kecilnya.

“Mau apa kalian?”

Tak ada yang menjawab, sekarang memang bukan saat untuk buka suara.

Inilah saat untuk turun tangan!

Tiba tiba seorang lelaki berbaju hijau yang kurus kecil menerjang ke depan, pisau tajam dalam genggamannya ditusukkan ke dada kiri Bibie kuat kuat.

Sepintas lalu dia tak mirip seperti seorang lelaki buas, tapi begitu turun tangan, serangannya tak ubahnya seperti terkaman seekor kucing alas.

Selain bagian tubuh yang mematikan ditubuh seseorang, ujung pisaunya tak pernah menusuk bagian tubuh yang lain.

Sebab dia tahu dengan jelas, untuk seseorang yang berperawakan kurus kecil macam dia, bila ingin bertahan hidup di sungai telaga, dia harus istimewa ganasnya dan istimewa kejamnya.

Dengan cekatan Bibie berkelit ke samping meloloskan diri dari tusukan itu, bahkan menggunakan kesempatan itu, dia melayangkan pula sebuah tendangan, menendang pisau belati ditangan lawan.

Tapi sayang tendangan itu meleset.

Biar begitu, kejadian ini sudah cukup menghebohkan, cukup mengejutkan hati orang orang itu, tusukan maut dari “si jago ke tujuh pembetot sukma” bukanlah tusukan yang gampang dihindari.

Ada orang mulai menjerit, ada orang mulai berteriak kaget!

“Tak disangka bocah perempuan ini hebat juga kungfunya!”

Lagi-lagi Bibie mendongakkan kepalanya sambil tertawa dingin:

“Terus terang aku beritahu kalian, nonalah si jago nomor wahid dari desa Sik-tau-siang dan wilayah delapan ratus li disekitarnya!”

Dia tidak membual, ucapan tersebut memang tidak mengibul apalagi sengaja membanggakan diri.

Dia memang punya kungfu yang handal, tak sedikit anak muda yang punya niat jahat kepadanya pernah merasakan bogem mentah dan tendangan pantatnya, membuat orang orang itu lari dan kabur terbirit birit.

Tentu saja hal ini bukan lantaran dia benar benar pandai berkelahi, dia hebat karena ia mempunyai seorang ayah yang sangat ternama ditambah dengan seorang sahabat karib.

Yang ditakuti orang lain tentu bukan dirinya, tapi ngeri dengan sahabatnya itu dan nama besar dari Tio toaya.

Sayang sekali dia lupa, tempat ini bukan desa Sik-tau-siang.

Cing Oh-cu dan Oh Piau saling bertukar pandangan sekejap, lamat lamat mereka sudah dapat menilai sejauh mana bobot budak cilik ini.

Mata seorang kangouw kawakan memang lebih berbisa daripada seekor ular berbisa.

Oh Piau tertawa dingin, katanya:

“Mao tua, kau maju seorang diri!”

Ia sudah tahu, cukup sebilah pisau dari “si jago ke tujuh pembetot sukma” sudah lebih dari mampu untuk menghadapi budak kecil ini.

Kalau urusan sudah menyangkut gengsi, nama dan harga diri, kenapa ia tidak memberi kesempatan kepada saudara sendiri untuk mendapatkannya?

Paras muka “si jago ke tujuh pembetot sukma” tetap hambar, dingin tanpa perubahan sedikitpun, dia masih menatap Bibie dengan pandangan yang lebih tajam dari sembilu.

Bibie ikut tertawa dingin.

“Ka masih berani maju?” jengeknya.

“si jago ke tujuh pembetot sukma” tidak menjawab.

Jago ini memang sangat pandai memainkan pisau tapi tak mampu bersuara, dia bukan seorang lelaki sejati yang mengutamakan kejujuran.

Tiba tiba saja pisaunya kembali melancarkan sebuah tusukan. vUntuk kesekian kalinya Bibie menghindar ke samping, dalam perkiraannya tusukan itu dengan mudah dapat dihindari.

Siapa tahu serangan itu hanya serangan tipuan, terlihat cahaya senjata berkelebat lewat, tusukan yang semula mengancam dadanya mendadak berubah arah dan langsung menusuk ke arah tenggorokan.

Belum sempat melihat jelas apa yang terjadi, tahu tahu tusukan pisau itu sudah tiba di depan mata, kecuali menerima tusukan itu dengan tenggorokannya, tidak nampak ada jalan lain yang bisa dia lakukan.

Disaat yang amat kritis itulah tiba tiba tampak sesosok benda meluncur datang dari balik kegelapan dan……. “Triiing!” langsung menghajar punggung pisau.

Diiringi dentingan keras yang memekikkan telinga tahu tahu pisau belati itu patah jadi dua bagian.

Sebuah benda ikut rontok ke tanah bersamaan dengan rontoknya kutungan pisau belati itu, ternyata benda itu tak lain adalah sebuah anak kunci.

IV.

Pisau belati milik “si jago ke tujuh pembetot sukma” bukan pisau belati sembarangan, pisau itu terbuat dari lempengan baja yang sangat keras dan kuat, khusus dia kirim orang untuk membawanya dari kota Beijing.

Gerak serangan yang dia lakukan pun selalu cepat bagai sambaran kilat, konon sedemikian cepatnya gerak serangan itu hingga mampu menusuk seekor lalat yang sedang terbang di udara.

Tapi kenyataannya sekarang…… anak kunci itu jauh lebih bagus, jauh lebih hebat, bahkan mampu menghajar pisau belati bajanya hingga patah jadi dua bagian.

Paras muka “si jago ke tujuh pembetot sukma” yang amat jarang berubah, kini, secara tiba tiba berubah sangat hebat.

Bibie sendiri pun amat terkejut, dia masih dapat merasakan detak jantungnya yang berdebar keras.

Disisi sebelah kiri mereka tampak sebuah tumpukan peti kayu yang cukup tinggi dan banyak.

Dari balik bayangan gelap tumpukan peti kayu itu berdiri seseorang, seseorang yang mengenakan pakaian serba hitam.

Dia berdiri disitu dengan tenang, tidak bicara pun tidak nampak badannya bergerak.

Ditengah kegelapan malam, Bibie tak dapat melihat jelas raut mukanya, tapi secara tiba tiba ia merasa bahwa orang itu sangat menakutkan.

Bahkan dia sendiripun tak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi, sepanjang hidupnya hampir boleh dibilang ia tak pernah takut terhadap siapa pun.

Tentu saja dia pun tak paham kalau ada sementara orang yang semenjak dilahirkan sudah membawa semacam hawa pembunuhan yang menakutkan, entah siapa pun orangnya, bila bertemu dengan orang semacam ini pasti akan merasa amat ketakutan.

Tidak terkecuali “si jago ke tujuh pembetot sukma”, tak kuasa lagi dia ikut mundur dua langkah dari posisi semula.

“Siapa kau?”

Suara yang muncul dari orang dibalik kegelapan itu bukan jawaban, melainkan sebuah perintah:

“Enyah dari sini, semua anggota jalak hitam segera enyah dari hadapanku!”

“Black panther!” ada orang menjerit secara tiba tiba.

Kawanan geng dari Lao-pat-ku segera merasakan semangatnya bangkit kembali, mereka merasa punya tenaga kembali.

Sebaliknya paras muka Oh Piau berubah hebat, dia segera memberi kode tangan, seketika itu juga belasan orang yang berada di belakangnya pelan pelan bergeser mundur dari posisi semula.

Baru mundur dua langkah, lagi lagi terdengar suara pekikan nyaring disusul tampak kawanan geng itu menerjang maju ke arah orang dalam kegelapan malam itu.

Belasan sosok bayangan manusia dengan belasan bilah pisau tajam.

Dari sekian banyak pisau yang diayunkan ke depan, pisau milik “si jago ke tujuh pembetot sukma” tetap merupakan tusukan pisau paling cepat, dalam saku orang semacam dia, tentu saja tidak hanya sebilah pisau yang digembolnya.

Orang yang berada dalam kegelapan itu tidak tampak menggembol senjata apapun, dia hanya memiliki serenteng anak kunci.

Anak kunci yang berada ditangannya berbunyi amat nyaring, dentingan demi dentingan bergema memecahkan keheningan malam, namun orang itu sama sekali tak bergerak, bergeming pun tidak.

Para anggota geng Lo-pat-ku sudah bersiap sedia, mereka berencana hendak membendung terlebih dulu datangnya tusukan pisau dari belasan orang itu.

Tiba tiba Cing Oh-cu menghalangi jalan pergi mereka sambil katanya dengan tertawa dingin:

“Kita saksikan dulu apakah dia mampu menghadapi serangan itu, kalau tak sanggup, kita baru turun tangan”

Belum selesai perkataan itu diucapkan, sudah ada seseorang roboh terkapar di tanah sambil menjerit kesakitan.

Orang dalam kegelapan yang berdiri mematung tanpa bergerak sedikit pun itu tiba tiba sudah melompat ke udara, menerkam bagai seekor macan kumbang.

Dia masih bertangan kosong.,

Tapi sepasang tangannya itu seakan merupakan senjata pembunuhnya yang paling mengerikan.

Gerak serangannya telengas lagi aneh, sebuah tonjokan yang jelas jelas mengarah ke dada seseorang, tahu tahu dalam sekali jumpalitan saja sebuah tendangan maut telah disarangkan diatas dada orang yang lain.

Menyusul kemudian terdengar lagi suara tulang yang patah dan suara hancuran tulang yang bergemerutukan.

Waktu itu pisau “si jago ke tujuh pembetot sukma” jelas sedang menusuk keatas dadanya, tapi mendadak, tidak jelas apa yang terjadi tahu tahu lengannya sudah kena ditangkap lawan menysul bergemanya suara gemerutukan nyaring.

Peluh dingin jatuh bercucuran membasahi jidat “si jago ke tujuh pembetot sukma” saking sakitnya, baru saja dia berganti napas, mendadak tangan kirinya kembali sudah meloloskan sebilah pisau tajam, lalu sambil gigit bibir dia menerobos ke muka.

Kalau sudah berkelahi, orang ini memang tak pernah mau perhitungkan keselamatan sendiri.

Sayang sekali belum sempat pisau itu ditusukkan ke depan, tubuhnya sudah terhajar sebuah tendangan hingga mencelat sejauh satu tombak lebih.

Melihat gelagat tidak menguntungkan, akhirnya sambil menggigit bibir Oh Piau memberi tanda dan teriaknya:

“Mundur!”

Dari belasan orang yang melancarkan serangan kini tinggal enam-tujuh orang yang masih sanggup berdiri, ke enam-tujuh orang itu serentak mundur dari arena pertarungan.

“Kejar!” perintah Cing Oh-cu sambil mengayunkan kampaknya.

 

Bersambung ……….