TAman BAcaan NASional

Sam Kok - Part 1

Akhir Tong Han, pemerintahan sangat rapuh, rakyat hidup sengsara, Cho cho angkat senjata menumpas pasukan kuning, setelah membasmi Lu Poh, Wan Sau sekalian, kekuasaannya meluas hingga bagian utara Tiongkok.

Setelah menjemput kaisar Han Sian-tee kembali ke Si-tok, Cho Cho mengangkat diri menjadi Perdana Menteri, ia menyiapkan pasukan darat dan air, siap menumpas pasukan dari Lau Tiong di Sin-ciu dan membasmi pasukan Lau Pie. Diapun mengirim surat perang kepada Sun Jian.

Cho Cho sesumbar memiliki pasukan sebesar 830.000 orang padahal hanya 230.000 orang.Lau Pie yang kalah mundur ke Tiang-pan, sementara Sun Jian merasa situasi gawat, diapun mengutus Lu Siau menjumpai Lau Pie untuk mencari kabar.

Lu Siau bertemu Lau Pie di Tiang Pan dan mengajaknya kerja sama menghadapi Cho Cho, Lau Pie gembira, Cukat Liang menganggap situasi gawat dan mohon ijin untuk berangkat bersama Lu Siau menjumpai Sun Jian, Lau Pie setuju.

Tiba di Cay-siang, Lu Siau persilahkan Cukat Liang istirahat, sementara itu Sun Jian sedang mengadakan rapat. Kata Chang Cau:”Cho cho sangat kuat, setelah kota Sin-Cou dikuasahi, kami sudah kehilangan setengah wilayah strategis, lebih baik menyerah saja”.

Usul Chang Cau mendapat dukungan orang banyak. Kembali Chang Cau menambahkan: “Cukong jangan curiga, menyerah kepada Cho cho berarti rakyat Tong-Wu tenteram, enam propinsi pun akan selamat”. Sun Jian hanya tundukkan kepala tidak menjawab.

Tak lama Sun Jian keluar dari ruang sidang diikuti Lu Siau, katanya:
“Cukong jangan turuti perkataan orang banyak, semua orang boleh menyerah kepada Cho Cho kecuali Cukong”.
“Kenapa begitu?” Tanya Sun Jian.

Kata Lu Siau: “Bila kami yang menyerah, paling banter jadi pejabat dikota keresidenan, bila Cukong yang menyerah kepada Cho Cho, paling hanya menjadi seorang bangsawan, jangan harap bisa peroleh posisi seperti sekarang ini. apa yang mereka usulkan tak lebih hanya memikirkan kepentingan sendiri, lebih baik Cukong segera mengambil keputusan!”

Sun Jian sangat terharu, ujarnya sambil menghela napas: “usul Chang Cau dan kawan-kawannya sungguh membuat hatiku kecewa, hanya ucapanmu yang berkenan dihatiku, aku hanya kuatir tak mampu menandingi Cho Cho”
Menggunakan kesempatan itu Lu siau meminta sun Jian untuk menerima Cukat Liang sambil menanyakan kekuatan dari pasukan Cho Cho.

Keesokan harinya, Lu Siau menemani Cukat Liang bertemu Sun Jian. Mula mula Cukat Liang menyampaikan dulu pesan dari Lau Pie sambil diam diam mengamati Sun Jian.
Melihat orang itu amat gagah, diapun putuskan akan memanasi hatinya dengan perkataan tajam.
Setelah berbasa basi, Sun Jian pun bertanya kepada Cukat Liang, berapa besar kekuatan pasukan dari Cho cho.

“Pasukan darat dan airnya berjumlah jutaan orang” kata Cukat Liang.
Sun Jian berpikir sejenak kemudian tanyanya: “Bagaimana cara kita menghadapinya?”
“Bila kau akan mengandalkan kekuatan dari Wu dan Ya untuk menghadapi serangan dari utara, cepatlah putuskan hubunganmu dengan Cho Cho, tapi bila merasa tak sanggup, kuanjurkan lebih baik menyerah saja, sebab situasimu memang sangat berbahaya”.

 Sun Jian segera balas menyindir: “Kenapa Lau Pie tidak menyerah?”
Jawab Cukat Liang: “Cukong kami adalah seorang enghiong sejati, seorang gagah yang disegani dan dihormati banyak orang, sekalipun merasa tak sanggup, tak nanti dia akan menyerah kepada Cho Cho!”

Dengan penuh emosi Sun Jian berkata: “Aku tak mungkin menggunakan kekuatan enam raja muda dari Kang-tong dan seratus ribu pasukan menaklukan orang ini, tapi akupun enggan menyerah kepadanya”
Cukat Liang pun segera mengurai kelemahan yang dimiliki cho cho sambil ujarnya:
“Walaupun kita kalah, tapi Kwan Yu masih memiliki sepuluh ribu pasukan, Lau Khi juga masih memiliki sepuluh ribu pasukan, cukup untuk melakukan pertempuran…..”

“Pasukan Cho cho datang dari jauh, mereka tak mengerti ilmu perang air, rakyat kota Sin-ciu pun amat membencinya, dengan tiga alasan tersebut, bila ciangkun bersedia berjuang bersama cukong kami, pasukan Cho cho pasti dapat kita pukul mundur ke utara. dengan ciangkun menguasahi timur sungai besar, cukong kami menguasahi kota Sin-ciu, tiga negara pun saling berimbang, daripada kita mengalami kekalahan seperti hari ini”

Sun Jian sangat gembira: “Mendengar uraian anda, rasanya persoalan sudah teratasi, keputusanku sudah bulat, tak usah merisaukan yang lain lagi, mari kita segera rundingkan cara melancarkan serangan”
Sun Jian pun menitahkan Lu Siau untuk mengumumkan rencana ini sementara Cukat Liang kembali ke wisma tamu untuk beristirahat.

Ketika para menteri mendengar Sun Jian sudah memutuskan untuk perang, buru buru mereka mengajak Ku Yong menghadap Sun Jian, menurut mereka pasukan musuh kelewat kuat, bila mengerahkan pasukan bisa membahayakan posisi sendiri.
Ku Yong pun berkata bahwa tujuan Lau Pie hanya ingin memanfaatkan kekuatan Tong-go untuk menghadapi cho cho, mereka minta Sun Jian jangan terperangkap. pikiran Sun Jian kembali goyah.

Kembali ke istana, Ibu suri yang melihat putranya masgul segera bertanya mengapa dia murung, Sun Jian pun menceritakan masalah yang dihadapinya.
Ibu suri segera berkata: “Mengapa kau melupakan pesan kakakmu? ia pernah berpesan, kalau menjumpai kesulitan urusan dalam negeri, carilah Thio Cau, kalau ada kesulitan urusan luar negeri, carilah Ciu Gi?”
Sun Jian segera tersadar, buru buru dia utus orang untuk mengundang Ciu Gi.

Waktu itu Ciu Gi sedang melatih pasukan airnya, mendengar pasukan Cho Cho akan membasmi Lau Pie kemudian menguasahi Tong Go, buru buru ia berangkat ke Cay-siang untuk ikut berunding.
Lu Siau menyambut kedatangannya dan menjelaskan hasil perundingan selama dua hari ini kepada Ciu Gi.

Ketika Ciu Gi tiba di Jay-sang, para menteri seperti Thio Cau, Ku Yong dll segera mohon menghadap, mereka mengusulkan untuk menyerah.
Tak lama para panglima perang seperti Thia Cing, Huang Kay, Han Tang dll berdatangan, mereka mengusulkan untuk berperang.
Ciu Gi tidak berkomentar, dia hanya berkata: “Besok kita rundingkan bersama Cukong”

Keesokan harinya Sun Jian meng umpulkan semua menteri dan panglima perangnya, kepada Ciu Gi diminta untuk mengambil keputusan.
Kata Ciu Gi: “Kedatangan Cho Cho ke selatan, dari sudut kemiliteran dia telah melanggar empat pantangan: pertama, garis belakang mereka tidak aman, Kedua. orang utara tak pandai ilmu berenang, ke tiga sekarang adalah musim dingin, sulit mencari rangsum untuk pasukan kudanya, keempat, mereka tidak menguasahi situasi diwilayah selatan”

Kembali Ciu Gi berkata: “Cho Cho sesumbar kalau pasukan darat dan airnya mencapai delapan ratus ribu orang, padahal tak lebih dari dua ratusan ribu orang, biarpun jumlahnya cukup banyak namun tak ada yang perlu ditakuti. cukup berikan lima puluh ribu pasukan pilihan, aku segera akan membuat Cho cho menderita kekalahan. harap cukong tak usah kuatir”
Sun Jian merasa semangatnya bangkit kembali.
“Aku setuju sekali dengan usulmu” demikian ia berkata, “kuputuskan akan bertarung habis habisan melawannya!”

Ciu Gi kuatir Sun Jian berubah pikiran, kembali ujarnya:
“Aku rela mati demi membunuh musuh, tapi kuatir bila cukong berubah pikiran”
Tiba-tiba Sun Jian mencabut pedangnya dan “Kraak!” membacok ujung mejanya hingga gumpil, katanya dengan tegas:
“Bila ada yang berani menyinggung soal menyerah lagi, meja ini akan menjadi contohnya!”

Bersambung …….