TAman BAcaan NASional

Pedang Tanpa Perasaan - Part 1

Karya : Khulung

Part - 1

 Sungai besar di dekat lembah Pa Tung, berpusat pada air terjun yang tinggi. Gerakan arusnya deras sekali sehingga membahayakan perahu kecil. Apalagi menjelang malam hari air meluap tinggi sampai di daratan. Entah sudah berapa banyak perahu kecil yang terbalik kemudian tenggelam di sungai itu.

Biasanya perahu-perahu yang ingin melanjutkan perjalanan selalu berhenti dan berlabuh di desa kecil yang ada di kaki lembah itu. Para pelancong menginap satu malam, menunggu keesokan harinya untuk melanjutkan perjalanan.

Hari itu, menjelang matahari terbenam. Dari kejauhan tampak dua buah perahu besar. Kedua perahu itu merupakan perahu bagus yang sering tampak berlalu lalang di sepanjang perairan itu. Bagian geladaknya lebar, di dalamnya terdapat kabin yang luas.

Kedua perahu besar itu perlahan-lahan bergerak menuju tepian dermaga. Di atas dermaga itu sudah menanti belasan orang. Pemimpin kelompok orang-orang itu adalah seorang laki-Iaki yang sudah lanjut usia dengan jenggot panjang yang sudah memutih.

Usianya mungkin sudah lebih dari tujuh puluh tahun. Tapi semangatnya masih menyala-nyala dan penampilannya masih gagah. Sedangkan yang lainnya juga tergolong para laki-laki dan perempuan yang biasa berkecimpung di dunia kangouw.

Di atas geladak kedua perahu besar juga berdiri sekitar delapan orang. Tampak di antaranya dua pasang suami istri, beberapa pemuda dan pemudi. Mungkin putra putri kedua pasang suami istri itu.

Ketika orang-orang yang menunggu di atas dermaga melihat perahu itu sudah berlabuh di tepian dermaga, mereka pun berkasak kusuk.

“Apakah benar kedua perahu ini?” ujar seorang wanita setengah baya.

“Tidak salah lagi. Kau tidak lihat lambang Pat Kua emas yang tergantung di atap perahu? Kecuali Pat Kua Kim Gin Kiam (pedang emas Pat Kua) Lie Eng Hiong, siapa lagi yang berani menggantungkan lambang itu di perahunya?” jawab teman-temannya.

“Aneh. Menurut berita yang tersiar di luaran, Lie Eng Hiong akan datang ke Si Cuan, tidak ada orang yang mengiringinya. Siapa kira-kira yang di perahu besar satunya lagi?”

Orang-orang yang ada di atas dermaga itu menggelengkan kepala tanda tidak tahu. Pemimpin yang telah berumur tujuh puluhan itu.

“Di kolong langit ini ada dua keluarga pedang yang ternama. Apakah kalian tidak tahu?” ujar pimpinan dengan nada keras.

“Ah! Kuan loya cu, maksudmu pasangan yang berdiri di atas perahu satunya lagi itu Pat Sian Kiam (pedang delapan dewa) Tao Cu Hun, Tao tayhiap dan istrinya?” ujar wanita setengah baya.

“Tidak salah. Hari ini kita dapat bertemu langsung dengan dua keluarga pedang paling ternama di dunia kang ouw dan berbincang-bincang. Bukankah hal ini merupakan suatu kejadian yang sangat menggembirakan?” Kakek itu berkata sambil mengelus-elus jenggotnya.

Wajah orang-orang itu langsung berseri-seri. Mereka semuanya terdiri dari orang-orang yang berjiwa gagah. Mereka sependapat bahwa dapat bertemu dengan Pat Kua Kim Gin Kiam, Lie Yuan dan istrinya, serta Pat Sian Kiam Tao Cu Hun suami istri memang merupakan hal yang sangat menggembirakan.

Ketika pembicaraan itu berlangsung, perahu sudah merapat di titian bambu dermaga. Tanpa menunggu para penumpang perahu itu meloncat turun, orang-orang itu segera menghambur ke depan menyambut kedatangan dua keluarga pedang itu.

Seorang laki-laki berusia setengah baya dengan wajah berbentuk persegi segera menyongsong ke depan.

“Kuan loheng, tidak disangka, tiga tahun kita tidak bertemu, tapi tampang loheng masih seperti dulu!” kata laki-laki setengah baya itu dengan suara lantang.

“Lie lote, ini yang disebut mendapat berkat dari Thian yang Kuasa!” Kakek Kuan tertawa terbahak-bahak.

Laki-laki berwajah persegi yang ternyata pendekar pedang kenamaan Lie Yuan segera menunjuk kepada seorang laki-laki bertampang kalem dan lebih mirip pelajar.

“Mari, mari…! Aku pertemukan kalian agar dapat berkenalan. Kuan loheng, ini Tao Cu Hun Tao tayhiap yang terkenal dengan gelar Pat Sian Kiam, dan yang ini istrinya Sam Jiu Kuan Im (Dewi Kuan Im bertangan tiga) Sen Cin.”

“Yang ini Cuan Tung tayhiap, Kuan Hong Siau, Kuan loya!” ujar Toa Cu Hun setelah merangkapkan kedua telapak tangannya seraya menjura hormat.

“Gang yang kecil mana dapat dibandingkan dengan jalan raya? Mengapa ada beberapa tokoh setempat yang mendengar Lie lote akan datang berkunjung dan sengaja menunggu di situ,” ujar Kuan Hong Siau seraya tertawa terbahak-bahak.

Sembari berkata, Kuan Hong Siau segera memperkenalkan orang-orang yang datang bersamanya kepada kedua jago pedang ternama itu. Mereka juga termasuk tokoh-tokoh yang cukup mempunyai nama sehingga baik Tao Cu Hun suami istri maupun Lie Yuan suami istri merasa sungkan.

“Kalian berdua jago pedang kenamaan tentunya bertemu di perjalanan bukan?” tanya Kuan Hong Siau.

“Dugaan Kuan loya memang benar,” sahut Tao Cu Hun.

“Kalau liongwi tidak keberatan, bagaimana kalau malam ini menginap di rumahku yang buruk? Kebetulan hari ini hari Tiong Ciu (Tanggalan Cina Bulan delapan tanggal lima belas), kita dapat menikmati bulan purnama sambil meminum arak serta mengobrol tentang para enghiong yang ada di dunia ini, bukankah ini merupakan acara yang menyenangkan?”

“Kuan loya sangat menghormati kami, tentu tidak enak hati apabila kami menolaknya,” sahut Tao Cu Hun.

Seluruh rombongan itu terdiri dari dua puluhan orang. Mereka segera meloncat ke atas dermaga dengan wajah berseri-seri. Hanya ada seorang pemuda yang terus mengernyitkan keningnya. Seakan hatinya sedang dilanda berbagai pikiran yang ruwet.

Pemuda itu berusia sembilan belasan. Dari sepasang alisnya tersirat kegagahan. Wajahnya tampan dengan postur tuhuh yang indah. Dia terus berdiri di belakang pasangan suami istri Tao Cu Hun. Memang pemuda itu anak pasangan suami istri itu. Namanya, Tao Heng Kan.

Bersambung ………