Pedang Tanpa Perasaan - Part 2
Karya : Khulung
Part 2
Ketika semua orang naik ke atas dermaga, dia bukan saja berjalan di bagian paling belakang, malah mengulurkan tangan meraba-raba gagang pedang di pundaknya. Wajahnya menyiratkan kegelisahan, jauh berbeda dengan sikap sehari-harinya.
Gerak gerik Tao Heng Kan ini tidak terlepas dari tatapan mata adiknya, yaitu Tao Ling. Usia gadis itu lebih muda dari abangnya dua tahun, tapi termasuk gadis yang mengalami pertumbuhan pesat.
Tinggi tubuhnya sudah hampir sama dengan Tao Heng Kan. Pinggangnya ramping dan wajahnya cantik. Dia sengaja memperlambat jalannya.
“Koko, apa yang kau risaukan?” Gadis itu bertanya kepada abangnya dengan suara berbisik.
“Oh! Tidak ada apa-apa!” jawab Tao Heng Kan seraya tersentak dari lamunannya.
“Koko, jangan berbohong. Kalau ada apa-apa, seharusnya kau bicarakan denganku. dengan demikian kita bisa merundingkannya bersama.”
Tao Heng Kan mempercepat langkah kakinya seakan ingin menghindari Tao Ling.
“Sungguh tidak ada apa-apa. Kau jangan curiga yang bukan-bukan!” katanya.
Tao Ling menatap bayangan punggung abangnya. Bibirnya mengembangkan seulas senyuman manis. Kemudian bergegas mendahului abangnya. Tetapi dia tidak mendesak abangnya dengan pertanyaan lagi. Karena itu hati Tao Heng Kan juga menjadi lega.
Kurang lebih setengah kentungan kemudian, mereka sudah sampai di rumah Kuan loya. Bangunan rumah itu besar sekali. Pada masa mudanya Kuan Hong Siau mendirikan sebuah perusahaan piau-ki (pengawalan barang-barang kiriman).
Sampai lima tahun yang lalu, orang tua itu mengundurkan dari usahanya. Selama empat puluh tahun, barang-barang yang pernah dikawal oleh Ceng Eng piau ki (Ekspedisi Elang Hijau) belum pernah terjadi kehilangan sekali pun.
Sungai telaga dari utara sampai selatan, baik tokoh go-longan hitam ataupun putih tidak ada yang berani menyentuh sedikit pun barang-barang kawalan Ceng Eng piau ki itu.
Pokoknya asal melihat bendera bergambar seekor elang berwarna hijau yang sedang membentangkan sayapnya, orang-orang dunia kang ouw menaruh sikap hormat dan tidak berani mengganggu.
Kalangan dunia kang ouw sungguh tidak mengerti mengapa lima tahun yang lalu, tiba-tiba Kuan Hong Siau mengumumkan bubarnya Ceng Eng piau ki. Bahkan orang tua itu menyatakan dengan tegas bahwa mulai saat itu, Ceng Eng piau ki tidak ada lagi di dunia kang ouw.
Gedung yang besar itu dibangun setelah Kuan Hong Siau mengundurkan diri. Begitu masuk pintu gerbang, tampaklah sebuah ruang penerimaan tamu yang sangat luas. Kuan Hong Siau mengajak para tamunya menuju taman bunga di bagian belakang gedung itu.
Di dalam taman bunga sudah tersedia beberapa buah meja dengan hidangan lengkap di atasnya. Setelah berbasa basi sejenak, para tamu pun duduk di bangku-bangku yang tersedia dan berbincang-bincang sambil menikmati hidangan.
Malam semakin larut, rembulan menggantung tinggi di atas cakrawala. Sinarnya terang karena bulan purnama bercahaya penuh. Bunga-bunga dan pepohonan tersorot cahaya rembulan sehingga membuahkan pemandangan yang indah. Bagian atasnya laksana dilapisi cahaya keperakan.
Kuan Hong Siau memerintahkan para pelayannya untuk memadamkan lentera. Bersama para tamunya, dia melanjutkan obrolan sambil meneguk arak. Meskipun malam sudah semakin larut, namun tidak ada seorang pun yang merasa mengantuk. Mereka masih menikmati malam yang indah dan ingin berbincang-bincang dengan semangat menyala-nyala.
Suara pembicaraan bersimpang siur. Riuh rendah tiada hentinya. Tiba-tiba wanita setengah baya yang pertama-tama mengajukan pertanyaan kepada Kuan Hong Siau itu menggebrak meja keras-keras.
Brakkk!
“Cio losam, kentut busuk! Aku bilang Pat Kua Kim Gin Kiam Hoat lebih hebat daripada Pat Sian Kiam Hoat!” teriaknya keras-keras.
Orang yang dipanggil Ci losam adalah seorang laki-laki berusia tiga puluh tahun lebih. Tubuhnya tinggi besar, wajahnya merah padam.
Hal ini membuktikan bahwa dia sudah mulai mabuk. Tam-paknya dia juga tidak bersedia mengalah. Meja di depannya digebrak sekuat tenaga. Brakkkk!
“Kongsun Ping, senjata yang kau gunakan hanya berupa golok bercagak, mana mungkin kau memahami keindahan ilmu pedang!”
Watak perempuan setengah baya itu agak aneh. Senjata yang digunakannya merupakan salah satu dari delapan belas jenis senjata aneh di dunia. Dia mempunyai dua macam senjata, yang satu golok yang bagian ujungnya bercagak. Sedangkan yang satunya lagi cakar dari besi. Itulah sebabnya ia mendapat gelar si Cakar besi, namanya Kongsun Ping.
Bersambung ………