TAman BAcaan NASional

Gereja Tua

Dikirimkan Oleh : Telecaster

Matahari belum memunculkan sinar sepenuhnya. Udara masih begitu dingin dan beku. Suasana di kota kecil itu masih seperti kota mati. Salju terlihat dimana-mana. Sejauh mata memandang hanya putih dan putih, bukti kemaha-dahsyatan badai semalam. Tapi sosok yang tegap itu tetap berdiri tanpa menghiraukan serangan suhu yang membekukan tulang. Dibawah temaramnya lampu kota, sosoknya tidak lebih mencurigakan dari cabang-cabang pinus yang bergerak liar. Hanya uap panas yang bergerak-gerak dari mulutnya yang menyatakan bahwa dia adalah manusia.

Pria itu bernama samaran Lynx. Dia berdiri disisi jalan paling luar, beberapa meter dari bangunan yang menjadi target operasinya. Bangunan itu adalah bangunan tua yang semestinya sudah dihancurkan, hanya lambang salib diatasnya yang masih bisa mempertahankan keutuhannya. Simbol hegemoni kota tua itu, perlahan tapi pasti, mulai kepayahan untuk tetap tegar berdiri melawan cuaca.

Gereja tua itu sudah ditinggalkan oleh jaman, begitu juga kota ini. Pemuda-pemudi di kota ini tidak ada yang bertahan disini. Begitu umur mereka mencapai 20 tahun, mereka pergi ke kota lain yang lebih besar. Gairah berpetualang ditambah semangat muda yang membara tidak cocok dengan ketenangan di kota kecil ini. Hanya tangan-tangan renta dan tawa anak-anak yang masih menjadi penopang gereja dan kota tua itu.

Lynx mengerjapkan matanya sambil membatin, “sebentar lagi”.

Sekali lagi dia mengecek posisi teman-temannya lewat walkie-talkie di saku dadanya. Tiga suara serak membalas panggilannya. Dia lega sejauh ini tidak ada masalah ataupun gangguan, sekecil apapun itu.Kali ini harus sempurna.
Operasi kali ini bukan operasi biasa. Ada tujuan besar dibaliknya.
Awalnya Lynx sempat bingung dengan keputusan sang pemimpin yang memilih kota kecil dan terpencil ini sebagai tempat operasinya. Tapi akhirnya dia sadar akan arti penting operasi ini. Dahulu kala, dikota inilah pemerintahan berdasar ketuhanan didirikan. Kekuatan nama Tuhan masih memegang peranan penting disini. Dan sang pemimpin memilih untuk menghancurkan “ground zero” ini dan menanamkan paham separatis “kiri”nya disini. Aksinya kali ini memang kecil, tapi efek simbolis yang ditimbulkan akan sangat besar.

“Semuanya ok Sergei ?”
“ok”, balas suara diujung sana.
“Bagus teman”

Kata terakhir terasa sangat janggal di mulutnya. Mungkin Lynx berpikir mereka tidak pantas disebut teman. Dalam dunianya tidak ada teman. Semua hubungan hanya sebatas kata profesionalisme. Semua orang adalah partner dalam hal menuju kematian. Dalam kehidupan semuanya dipenuhi individualisme. Kira-kira itulah yang ada dipikirannya.
“Jika kamu lengah, maka kamu akan ditinggalkan !”
Itulah prinsip yang diajarkan dunia terorisme padanya. Sang pemimpin sudah menanamkan pengaruhnya dalam-dalam pada diri Lynx. Apa yang dia pikirkan adalah manifestasi pikiran sang pemimpin. Mereka sudah hidup dengan satu paham.
Paham itu akan mengubah dunia, dan mereka adalah laskar-laskarnya. Kalau ada satu orang yang bisa disebut teman dalam hidup Lynx, orang itu hanyalah sang pemimpin. Semangat yang sama sudah mengalir dalam nadinya dan nadi para anggota organisasi. Dalam hal ini mereka sudah menjadi satu. Tujuannya adalah perubahan.

Lampu-lampu kota mulai dipadamkan. Sinar dari sebelah timur sudah mulai menyilaukan. Matahari sudah mulai berkuasa, memudarkan selimut putih yang menutupi kota. Daun-daun pinus akan segera berwarna hijau lagi. Kota akan hidup sebentar lagi dan sang gereja tua akan menemui ajalnya hari ini.

Sang eksekutor pun mulai mengundurkan diri dari posisinya.
Dia lalu bersembunyi dibalik pagar rumah yang sudah ditinggalkan penghuninya. Dari situ dia masih bisa mengamati pintu masuk gereja tua itu. Jaraknya dengan gereja hanya kira-kira seratus meter, tapi semak-semak dan ranting-ranting pinus yang berada diantaranya menjadi kamuflase yang sempurna untuk menyembunyikan keberadaannya.

Satu persatu orang orang mulai mendatangi gereja tua itu. Misa minggu pagi akan segera dimulai. Lynx menunggu gereja itu penuh lebih dulu sebelum memulai aksinya. Secara kasar, matanya mulai menghitung orang-orang yang masuk ke gereja. Semua berjalan sesuai perkiraannya. Rata-rata adalah orang tua. Tidak banyak darah-darah muda, yang bisa menjadi ancaman kegagalan aksinya, masuk ke gereja. Sembari mengamati batinnya mencemooh mereka. Tapi ada sedikit rasa simpati dibalik tatapannya.

Orang-orang bodoh, pikirnya. Pergi setiap pagi kedalam gereja-gereja tua dan menyembah Tuhan yang bisu. Tidak akan ada yang terjadi dalam hidup mereka. Tidak akan ada perubahan.
Itulah yang selama ini diperjuangkan organisasinya. Lynx berfikir bahwa perubahan bisa terjadi hanya dengan adanya tindakan, bahkan dengan tindakan yang ekstrim sekalipun. Tetapi bukan dengan berdoa pada Tuhan yang bisu. Tidak masuk akal bagi Lynx. Lynx adalah Tuhan bagi dirinya sendiri dan dia berfikir semua orang harus berfikir sepertinya.

Seratus orang lebih yang mengikuti misa pagi itu, dan Lynx memutuskan bahwa jumlah itu sudah cukup. Pada masa kejayaannya, gereja di tengah kota tua itu selalu menampung seribuan umat yang datang pada misa minggu pagi. Tapi, sekali lagi karena pusat kekuasaan dan perhatian penduduk berpindah ke kota-kota yang lebih besar dan lebih bersahabat cuacanya, maka angka seratusan sudah bermakna “penuh” bagi sang gereja tua.

“Perhatikan aba-aba dariku”

Lynx melangkah keluar dari persembunyiannya sambil menggenggam erat walkie-talkienya. Masker sudah dipasang untuk menutupi jati dirinya. Dia berjalan dengan perlahan dan mantap kearah pintu gereja, beriringan dengan lagu-lagu pujian dari dalam. Tidak ada senjata sama sekali ditubuhnya. Harga dirinya terlalu tinggi untuk menyentuh senjata. Baginya, kata-kata dan pikiran adalah senjata utamanya. Biar tangan-tangan anak buahnya yang bersinggungan dengan bau mesiu dan darah.

“Sekarang!”, bisiknya pada walkie-talkie.

Bunyi kaca-kaca pecah terdengar dari dalam gereja. Suara organ yang mengiringi nyanyian umat mendadak berhenti. Lagu-lagu pujian mendadak berganti dengan teriakan-teriakan histeris. Ada lima anak buah Lynx yang sudah berada didalam.
Senapan-senapan mesin AK-47 ditembakan ke udara untuk menambah kepanikan. Para tawanan yang ketakutan semakin berteriak histeris dan saling berpelukan. Anak buah Lynx menjaga semua sisi gereja. Tawanan-tawanan itu tidak punya pilihan lain selain berdesakan ditengah gereja.
Beberapa tawanan berlari kearah pintu gereja karena tidak ada anak buah Lynx disana, tapi segera berhenti begitu melihat sebuah sosok yang kurus tinggi melangkah masuk.

Sang eksekutor berjalan menaiki anak tangga pintu gereja. Aura teror yang dipancarkannya membuat para tawanan semakin berdesak-desakan di tengah gereja. Lynx memandang kesekeliling dan mendapat balasan sorot mata-mata ketakutan dari para tawanan itu. Dia tersenyum puas. Inilah yang diharapkannya, menebar ketakutan agar orang-orang mau mendengar jeritan kelompoknya. Ide yang bagus memang percuma kalau tidak didengar. Dan alat untuk membuat mereka semua mendengar adalah dengan teror. Setelah itu akan ada perubahan.

Seorang pastor menyeruak keluar dari kerumunan orang-orang panik itu. Nampaknya dia adalah pastor yang memimpin misa. Jubah dan mantol ungunya terlihat mencolok diantara orang-orang itu.

“Saya tidak tahu apa mau kalian, tapi tolong jangan sakiti mereka”.
Dari kata-katanya, pastor itu terlihat berusaha meredam rasa takutnya. Dia merasa sebagai pemimpin umat dan sepatutnya dia yang bernegosiasi dengan siapapun orang dihadapannya yang masuk dan mengobrak-abrik rumah Tuhannya.

“Jangan takut”, Lynx berjalan mendekat lalu mengelilingi kerumunan tawanan itu. Dia memandang jijik pada sang pastor. Lalu mengalihkan tatapannya ke arah kerumunan.
“Kalian akan kubiarkan keluar dari sini hidup-hidup. Tapi ada satu syarat”
Dia lalu memberikan sebuah isyarat pada anak buahnya.

Setelah menerima isyarat itu, anak buah Lynx bergerak ke altar dan menembaki tali yang menahan salib besar di altar. Dua kali tembakan saja dan tali itu putus, mengakibatkan salib besar itu jatuh berdebam ke lantai altar. Lalu, dibantu 2 orang lainnya, mereka menyeret salib itu kedepan pintu masuk gereja.
Para tawanan bertanya-tanya dalam hati apa gerangan yang akan terjadi berikutnya. Lynx puas melihat mimik kebingungan di wajah mereka.

“Kalian boleh keluar dari sini dalam keadaan hidup asalkan…”, kata terakhir ditekankannya untuk memberikan kesan dramatis. Para tawanan menunggu kalimat berikutnya seperti sedang menunggu ajal mereka sendiri.
“Asalkan kalian keluar dengan menginjak salib itu.”

Seketika terdengar gumaman tidak setuju dari orang-orang disitu. Lynx tersenyum lagi. Batinnya berkata bahwa ini adalah reaksi yang normal. Untuk melakukan perubahan memang dibutuhkan tindakan simbolis yang ekstrim seperti ini, apalagi kalau budaya ketuhanan ini sudah mengakar begitu lama di kota tua ini.

“Peluru kawan-kawanku akan dengan senang hati menyambut mereka yang menolak”, tambahnya.

“Kau tidak mungkin menyuruh kami melakukan tindakan sekeji itu, itu pengkhianatan terhadap Tuhan, itu….”. Suara sang pastor tercekat karena dengan secepat kilat anak buah Lynx menyambar lehernya.

“Itu Dosa. Hah ? itu yang ingin kau katakan?”
“Dasar orang tua bodoh. Kalian semua bodoh!. Tuhan itu tidak ada, begitu juga dengan dosa”
“Kalian sudah begitu lama terbius oleh mimpi-mimpi adanya Tuhan. Karena itulah kalian berhenti melawan. Lihat sekeliling kalian !, kalian sudah terjebak oleh kapitalisme ketuhanan. Gereja tua ini hanya jadi simbol kebobrokan negri ini”

“Sudah Sergei”, Lynx mulai angkat bicara lagi dan menyuruh Sergei melepaskan sang pastor.

“Kami sudah lama memperjuangkan kalian, orang-orang yang tertindas agar bisa disamakan haknya dengan tuan-tuan besar yang lebih cocok disebut lintah negri ini”, Lynx berbicara sambil menatap setiap mata yang tertuju padanya.
“Lihat saja orang-orang munafik yang mengatas-namakan Tuhan untuk semua kejahatannya”
“Sekarang aku datang untuk membawa angin perubahan di kota ini. Dari sinilah akan dimulai perlawanan terhadap kapitalisme”
“Menginjak salib itu bukan pengkhianatan, tetapi pembebasan dari Tuhan yang bisu. Berhentilah berharap dan mulailah dengan tindakan”.

Sang pastor terlihat tidak terpengaruh dengan kata-kata Lynx. Dia mulai bergerak mendekati Lynx.
“Tuhan itu ada ana….”, sang pastor tidak bisa menyelesaikan kata-katanya.
Sergei terlebih dulu membenamkan sebilah pisau ke lambung sang pastor. Dia lalu jatuh ke tanah dengan jubah ungu yang bersimbah darah.

Orang-orang tercengang melihat kejadian keji itu didepan mata mereka. Situasi damai dan tenang di kota kecil itu tidak membiasakan mereka melihat tindakan yang tidak manusiawi seperti itu. Beberapa wanita dan anak-anak berteriak histeris. Sang pastor yang dikenal baik oleh warga kota itu telah mati terbunuh di depan mata mereka dan tidak ada yang bisa mereka perbuat untuk menolongnya. Sergei lalu membalikkan tubuh sang pastor yang sudah tidak bernyawa itu. Dia mencabut pisaunya dan membersihkan darah yang menempel di pisau itu dengan sepatunya.

Lynx tampak tidak terpengaruh sedikitpun oleh kejadian itu. Matanya tetap tertuju tajam pada kerumunan orang. Semakin dalam efek teror yang ditanamkannya, maka semakin senanglah dia. “Teror adalah sebuah alat untuk perubahan”. Kata-kata itu terus diulang dalam otaknya.

“Tidak perlu berpanjang-panjang lagi. Kalian sudah bisa melihat contoh orang yang melawan kami”.
“Ayo kita mulai drama ini”. Lynx mengakhiri kata-katanya dan bergerak menuju tangga altar. Salah satu anak buahnya menyiapkan sebuah handy cam untuk merekam momen itu. Itu adalah alat propaganda bagi organisasi. Dengan adanya rekaman itu, maka bukti dimulainya perubahan akan lengkap. Video itu akan menunjukan pada dunia bahwa tidak ada Tuhan. Tidak ada keyakinan yang absolut dan mutlak. Semuanya bisa dirubah. Keyakinan manusia pada Tuhan yang bisu hanya mimpi-mimpi yang kosong. Teror ini akan menyadarkan mereka. Dan rekaman ini akan menyadarkan dunia.

Orang-orang tawanan itu terlihat ragu-ragu. Tidak sedikit yang menangis. Mungkin dalam benak mereka, keyakinan pada Tuhan memang kuat. Tapi mereka tidak berani menyonsong maut hanya demi keyakinan itu. Mereka ragu-ragu, dan ragu-ragu adalah tanda nyata dari ketidakpercayaan.

Lynx menunggu dengan sabar. Tapi aksi ini harus dilakukan secepatnya. Dan anak buahnya sudah mempersiapkan “sejata pamungkas” untuk memaksa aksi teror ini berakhir dengan sukses.

“Lebih baik kalian cepat-cepat keluar dari sini, karena anak buahku sudah menyiapkan bahan peledak di setiap sudut gereja”, Lynx mulai mengancam.
“Hari ini, simbol kota tua ini akan rata dengan tanah”.

Kalimat terakhirnya menimbulkan efek kepanikan dengan sukses. Sekarang, wajah-wajah panik yang dipancarkan para tawanan terlihat dengan jelas dan sebentar lagi akan mencapai klimaksnya. Tapi tetap saja tidak ada yang berani bergerak maju ke pintu gereja. Meskipun begitu, Lynx tetap menunggu. “Senjata terakhir” sudah dia keluarkan. Sebentar lagi teror akan berakhir dan perubahan akan dimulai.

Tidak ada yang bergerak maju, kecuali seorang anak gadis berambut pirang. Dia melangkah malu-malu keluar dari kerumunan. Umurnya mungkin baru sekitar 3 atau 4 tahun. Rambutnya dikepang dua dengan pita biru diujungnya. Warna pita itu seragam dengan sorot dari bola mata polos birunya. Umat gereja seperti tersihir melihat gadis kecil itu melangkah maju. Suasana menjadi hening seketika. Suara-suara tangisan dan kepanikan seolah tersedot keluar dari bangunan itu. Tidak ada gerakan dari para tawanan untuk menghalangi langkah anak kecil itu. Sepertinya dia datang sendiri ke gereja itu.

Gadis pirang itu menghentikan langkahnya sekitar satu meter dari salib. Dia berbalik pada para tawanan dan menatap mereka dengan malu-malu. Lalu dia berpaling pada Lynx dan menatapnya dalam-dalam dengan mata biru polosnya sambil tersenyum.

Lynx membeku. Dia tidak tahu harus memberikan reaksi apa pada sang anak kecil. Tatapan si gadis menusuk benaknya yang paling dalam. Seolah-olah si gadis sedang memeriksa hati Lynx sampai kedalaman tempat dia menyimpan hal-hal yang paling pribadi. Kali ini Lynx betul-betul tidak tahu harus bereaksi atau tidak. Tatapan sang gadis seolah mengatakan kalau Lynx telah berbuat kesalahan. Semua anak buah Lynx juga terdiam menyaksikan momen itu. Keheningan dan ketegangan berpadu dengan drama yang sedang dimainkan sang gadis. Dia adalah bintang tunggal dari pementasan teror ini. Tak seorang pun tahu apa yang akan dia lakukan selanjutnya dan kemana ia akan membawa cerita ini.

Lynx tetap terpaku pada tempatnya. Semua orang menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Gadis kecil itu berpaling lagi pada salib besar dihadapannya. Sejenak dia terdiam. Lalu kemudian dia berlutut dan mencium kaki Yesus yang terpaku di kayu salib itu. Semua orang takjub melihat kejadian itu. Tapi sang bintang belum menyelesaikan perannya. Dia lalu memeluk patung Yesus yang terbujur kaku.

“DOR!!!”.
Suara letusan AK-47 Sergei memecah keheningan.
Peluru yang keluar dari senapannya membelah udara dan tepat mengenai tengkuk leher sang gadis kecil.
Darah segar mengucur dari tubuh mungilnya. Dia tidak lagi bergerak dan tetap memeluk patung Yesus. Drama pementasan itu diselesaikan dengan tragis oleh sang antagonis.

Para penonton semakin terpaku kaku melihat adegan itu. Beberapa ibu mulai menangis terisak lagi. Sungguh ini bukanlah pemandangan biasa yang akan mereka dapati di kota tua itu dalam 100 tahun sekalipun. Lynx pun ikut terpana melihat kejadian itu. Dia terdiam sebentar. Tidak ada yang bisa menebak apa yang ada dalam pikirannya saat itu. Lalu dia kembali menatap kearah kerumunan umat, menanti apa yang berikutnya akan terjadi.

Tampaknya aksi sang gadis kecil menjadi inspirasi bagi yang lainnya. Sepasang kakek nenek keluar dari kerumunan. Mereka berjalan perlahan sambil berpegangan tangan. Sama seperti sang gadis, mereka berlutut dan mencium kaki Yesus. Tapi mereka tidak sempat memeluknya. Sergei sudah menembakan peluru kearah mereka terlebih dahulu. Mereka juga jatuh kelantai bersamaan. Lynx tidak percaya melihat adegan susulan ini. Tapi keterkejutannya belum berakhir.

Satu persatu, umat yang lain menyusul. Mereka berjalan sepanjang lorong gereja untuk menyongsong maut. Ada ekspresi pasrah dan tenang di wajah mereka. Ini adalah pemandangan paling aneh dalam hidup Lynx. Hampir seumur hidupnya dia yakin bahwa keyakinan pada agama bisa dihilangkan dengan teror. Tapi pemandangan didepan matanya membuktikan kalau dia salah. Perjuangan awal untuk merubah dunia diambang kegagalan.

Kebingungan juga melanda anak buah Lynx. Mereka tidak tahu harus berbuat apa. Mereka juga tidak menanyakan langkah selanjutnya pada Lynx, seperti aksi teror yang mereka lakukan sebelum-sebelumnya.
Emosi terlihat memuncak dimata Sergei. Pemandangan itu membuatnya lepas kontrol. Dia memberondong iring-iringan umat itu dengan AK-47 nya. Teriakan kemarahan Sergei lebih mirip teriakan putus asa. Semua usaha organisasinya sia-sia. Video rekaman kejadian itu hanya menjadi saksi bisu kesalahan organisasinya. Orang-orang akan menyamakan sang pemimpin dengan Hitler dan organisasinya dengan NAZI.

Akhirnya semua tawanan sudah jatuh ketanah, tidak ada yang tersisa. Sergei terengah-engah karena kemarahannya. Dia sudah menghabiskan seluruh peluru di senapan mesinnya. Bau mesiu dan darah terasa menyengat didalam bangunan itu. Dia melihat kearah Lynx yang masih berdiri diam. Sadar bahwa sang komandan sudah kehilangan akal, dia lalu mengambil alih kepemimpinan. Sergei menyuruh rekannya yang lain keluar dari bangunan tua itu.

“Semuanya, langsung ke jeep !”

Mereka bergerak dengan sigap begitu mendengar perintah, meninggalkan sang komandan di altar.

“Lynx!”, teriak Sergei
“Sekarang akan kuledakan, ayo keluar !”
Tapi Lynx tidak menjawab.
“Lynx, sekarang !”

Lynx hanya terdiam seperti mayat-mayat itu, dia tidak memikirkan aksi yang baru saja dilakukannya. Pikirannya beku seperti salju dan matanya memandang kosong kearah tumpukan mayat. Ini adalah saat pertama kali dalam hidupnya ia meragukan keyakinannya pada sang pemimpin.
Operasinya bisa dibilang berhasil jika tujuannya hanya menghancurkan gereja tua itu. Koran-koran ternama negara itu akan memuat kejadian ini dihalaman depan dan namanya akan tertera pada headline-headline. Dan pada saat itu, dia tidak perlu lagi cemas akan ditangkap untuk bertanggung jawab, karena sang pemimpin sudah mempersiapkan pelarian untuk dirinya. Mereka sukses menancapkan kuku tajam pada sejarah kelam negeri itu, dan paham separatis “kiri”nya akan tersebar luas dengan cepat.

Tapi sang komandan tetap terdiam. Matanya masih mempertanyakan kejadian yang baru saja dia lihat. Dalam hatinya dia tahu, aksi itu sebenarnya gagal total. Bagaimana mungkin merubah dunia, jika untuk merubah kelompok orang tua renta saja dia tidak mampu ? Lynx terduduk lemas di tangga altar. Rasanya semua tujuan dan aksi terornya tidak lagi penting. Fakta bahwa dia telah membunuh begitu banyak untuk sesuatu yang tidak mungkin telah menghancurkannya. Pada saat itu dia tahu, dirinya dan sang pemimpin tidak akan pernah berhasil.

Selesai ………