Pedang Tanpa Perasaan - Part 3
Karya : Khulung
Part 3
Mendengar Cio losam mengucapkan kata-kata yang mengejeknya, dia langsung berteriak keras-keras. Tubuhnya segera bangkit dari tempat duduk.
“Cio losam, mendengar perkataanmu yang tidak enak didengar tadi, ada baiknya kita bertanding sebentar. Bagaimana?”
Trang! Trang! Kongsun Ping melemparkan senjatanya ke atas meja sehingga beberapa buah mangkok dan cawan pecan berantakan. Senjatanya berukuran kurang lebih tiga puluh lima senti. Ujungnya terdapat dua jari-jari berupa cakar dan terbuat dari besi.
Wajah Cio losam berubah hebat.
“Bagus! Kalau si cakar besi Kongsun Ping telah menurunkan perintah, mana berani aku menolaknya?”
Tangannya bertumpu di atas meja. Tubuhnya terangkat sedikit, kakinya memantul dan Cio losam pun melakukan salto beberapa kali di atas udara. Sebelum mendarat turun di tengah-tengah taman bunga.
Kongsun Ping juga melesat ke depan secepat kilat, tapi belum lagi dia sampai di depan Cio losam, tampak sesosok bayangan berkelebat. Serangkum angin kuat menerpa dirinya sehingga kakinya terhuyung-huyung mundur beberapa langkah. Ketika dia mengalihkan pandangan matanya, ternyata orang yang berdiri di depannya adalah Kuan Hong Siau.
“Kuan loya, apakah kau ingin memberikan bantuan kepada Cio losam?” teriak Kongsun Ping.
Wajah Kuan Hong Siau serius sekali.
“Kongsun niocu, jangan mencari keributan. Kita semua sahabat karib. Untuk apa harus turun tangan?”
“Aku mengatakan Pat Kua Kim Gin Kiam Hoat lebih hebat dari Pat Sian Kiam Hoat!” Tampaknya adat wanita ini bukan saja berangasan tapi juga keras kepala.
Kuan Hong Siau menoleh kepada kedua tamu agungnya, Lie Yuan dan Tao Cu Hun.
“Tokoh-tokoh setempat ini benar-benar tidak memberi muka kepadaku, harap Hong wi tayhiap jangan menertawakan. Kalian berdua memang jago pedang kenamaan, saat ini malam sedang indah-indahnya, apakah kalian berdua bersedia menunjukkan sedikit kebolehan kepada kami agar semuanya merasa puas?” ujar Kuan Hong Siau.
Mendengar ucapan Kuan Hong Siau, teman-temannya yang lain serentak menyatakan keakuran pendapat mereka. Malah Cio losam dan Kongsun Ping ikut berseru.
“Bagus sekali. Liongwi boleh bertanding beberapa puluh jurus untuk membuktikan siapa yang lebih unggul di antara dua jago pedang kenamaan di dunia kang ouw sekarang ini.”
Kuan Hong Siau hanya tersenyum simpul. Dia tidak memberikan komentar apa pun terhadap ucapan kedua orang itu. Hal ini membuktikan bahwa dia sendiri ingin menyaksikan siapa yang lebih unggul dari kedua jago pedang itu. Pat Kua Kim Gin Kiam Lie Yuan juga tidak memberikan tanggapan apa-apa. Justru Tao Cu Hun yang berkata, “Kuan loya, tidak usahlah. Buat apa memaksa siaute menunjukkan keburukan?”
“Apabila Pat Sian Kiam Hoat yang dikuasai Tao lote masih dibilang ilmu yang buruk, aku yang tua sungguh tidak bisa membayangkan ilmu pedang yang mana lagi yang dapat dikatakan bagus!”
Pasangan suami istri Tao Cu Hun membawa kedua putra putrinya melakukan perjalanan ke Si Cuan, pada dasarnya mereka ada urusan penting. Tidak disangka-sangka di tengah perjalanan mereka bertemu dengan pasangan suami istri Lie Yuan.
Mereka sudah lama mendengar ketenaran nama masing-masing, tapi belum pernah bertemu muka. Karena merasa cocok, mereka pun melakukan perjalanan bersama-sama.
Watak Tao Cu Hun memang kalem. Dia menganggap perebutan nama besar di kalangan dunia kang ouw adalah sesuatu yang tidak berarti. Tidak terselip sedikit pun niat di hatinya untuk menunjukkan sampai di mana tingginya ilmu pedang yang dia miliki. Karena itu dia hanya tersenyum kecil.
“Maksudku, kalau dibandingkan dengan Pat Kua Kim Gin Kiam milik Lie heng, tentu saja terpaut jauh,” ujar Tao Cu Hun.
Lie Yuan sejak tadi tidak berbicara, tiba-tiba dia menukas, “Apakah Tao Heng tidak terlalu merendahkan diri sendiri?”
Tao Ling berdiri di samping Tao Cu Hun. Dia menyenggol ujung lengan ayahnya.
“Tia, kau lihat sikap orang she Lie itu demikian congkak, seakan tidak ada jago lain lagi di dunia ini. Mengapa kau tidak memberikan pelajaran barang beberapa jurus?”
Tao Cu Hun terkejut setengah mati. Tadinya dia bermaksud mencegah putrinya mengoceh sembarangan, tapi sudah terlambat. Meskipun suara Tao Ling cukup lirih, tapi orang-orang yang hadir di tempat itu tokoh-tokoh yang sudah mempunyai dasar ilmu yang kuat, terutama pasangan suami istri Lie Yuan.
Kedua orang ini sejak kecil sudah digembleng untuk menguasai Pat Kua Kim Gin Kiam Hoat. Sedangkan ilmu yang saat ini mempunyai keistimewaan tersendiri. Setiap kali jurusnya dilancarkan, tidak terbit suara sedikit pun.
Seandainya menutup mata, tentu orang tidak tahu bahwa pedang mereka sudah meluncur ke arahnya. Tetapi mereka berdua justru sanggup mengimbangi kehebatan pasangannya dengan mata tertutup.
Tentu saja pendengaran dan pandangan mata mereka sangat peka. Ucapan Tao Ling sudah tertangkap jelas oleh mereka.
Wajah Lim Cing Ing, istri Lie Yuan mulai berubah. Bibirnya mengembangkan senyuman sinis.
“Tao tayhiap, usul putri anda boleh juga!”
Tao Cu Hun mendelik putrinya sekilas.
“Ucapan seorang anak mana bisa dipegang. Harap kalian berdua memaafkannya!”
Lie Yuan mengulurkan tangannya meraba pinggang. Terdengar suara desiran yang halus. Cahaya keemasan memenuhi sekitar tempat itu.
Ternyata dia sudah mulai menarik gagang pedangnya. Pedang pusaka itu berwarna perak, tapi di bagian tengahnya terlihat segurat garis yang memantulkan cahaya keemasan.
Sinarnya tajam dan menyilaukan mata. Sekali pandang saja dapat dipastikan bahwa yang digunakannya adalah sebatang pedang pusaka yang langka. Mungkin merupakan warisan turun temurun selatna ratusan tahun. Lie Yuan tertawa terbahak-bahak.
“Tao Heng, masa kau sungguh-sungguh tidak bersedia menunjukkan sedikit kepandaian agar mata para sahabat ini terbuka?”
Kata-katanya memang diucapkan dengan sungkan, tapi rona wajahnya sungguh tidak enak dilihat. Tao Ling menyadari kata-katanya yang kekanak-kanakan tadi telah menimbulkan masalah. Hatinya tercekat sekali, cepat-cepat dia bersembunyi di belakang ibunya dan tidak berani mengatakan apa-apa lagi.
Mendengar ucapan Lie Yuan, Tao Cu Hun jadi serba salah. Dia sadar sekarang apabila dia tetap menolak permintaan orang itu, rasanya tidak mungkin lagi. Tapi kalau dituruti, pasti akan timbul berbagai masalah.
Sebab bila dia meraih kemenangan, sama saja dia menjatuhkan pamor Pat Kua Kim Gin Kiam. Dengan demikian pasti terjadi perasaan dendam yang mungkin akan berlangsung turun temurun.
Bersambung ………