Pedang Tanpa Perasaan - Part 4
Karya : Khulung
Part 4
Tidak ada hari tenang lagi di kelak kemudian hari. Tetapi apabila dia sengaja mengalah kepada Lie Yuan, nama baiknya sendiri akan hancur dan bukan saja dia tidak mempunyai muka lagi muncul di dunia kang ouw, malah sekaligus merusakkan nama besar yang telah dipupuk para leluhurnya dengan susah payah.
Tao Cu Hun berpikir bolak balik.
“Bila Lie heng mendesak terus, biar putra kami Heng Kan yang meminta petunjuk barang beberapa jurus saja. Bagaimana pendapat Lie heng?” kata Tao Cu Hun.
Menurut Tao Cu Hun sendiri, gagasannya tepat sekali. Karena ilmu pedang Lie Yuan pasti jauh lebih tinggi dibandingkan seorang boanpwe seperti anaknya Heng Kan. Tidak dinyana, mendengar ucapannya, wajah Lie Yuan semakin berubah.
“Rupanya di dalam hati Tao Heng demikian memandang rendah ilmu pedang pat kua pai kami?”
Diam-diam hati Tao Cu Hun berseru “celaka”. Maksud baiknya malah salah ditafsir oleh Lie Yuan. Baru saja dia bermaksud menjelaskan niat yang terkandung dalam hatinya, Lie Yuan sudah berteriak.
“Po ji!” teriak Lie Yuan.
Seorang pemuda berusia kurang lebih dua puluh tiga tahun segera mengiakan dan berdiri dari tempat duduknya.
“Po ji, coba kau minta petunjuk barang beberapa jurus dari Tao Heng!”
“Baik!” sahut pemuda itu. Tubuhnya bergerak melesat dan tahu-tahu dia sudah berdiri di tengah-tengah taman bunga yang luas. Cring! Lie Yuan menghunus pedang pusakanya dan dilemparkannya ke udara.
“Sambutlah!”
Di bawah cahaya rembulan yang bersinar terang, tampak pedang pusaka itu melayang ke tengah udara. Seakan tiba-tiba dia melemparkan seekor naga emas. Serrr! Pedang itu melayang setinggi lima depa, kemudian berputar beberapa kali dan menukik turun dengan bagian gagangnya di sebelah bawah.
Tepat pada saat itu juga, Li Po mengeluarkan suara siulan yang panjang. Tubuhnya mencelat ke atas dengan tangan terulur. Gerakannya indah sekali. Sesaat kemudian pedang pusaka itu sudah tergenggam dalam telapak tangannya dan dia pun melayang turun kembali serta berdiri dengan mantap.
Li Po menggerakkan pedang di tangannya. Tampak bunga-bunga bayangan yang memenuhi seluruh tempat itu. Cahaya memijar menutupi seluruh tubuh Li Po. Pada dasarnya pemuda itu memang mempunyai penampilan yang gagah dan tampan.
Hal ini malah menambah keindahan gerakannya. Sungguh pemandangan yang mengagumkan. Orang-orang yang berkumpul di taman bunga gedung Kuan Hong Siau segera melontarkan pujian dan bertepuk tangan dengan riuh.
Li Po menghentikan gerakannya. Tangannya menuding kepada Tao Heng Kan.
“Tao Heng, harap, harap sudi memberikan sedikit petunjuk!” ujar Li Po.
Tiba-tiba wajah Tao Heng Kan menyiratkan mimik yang menakutkan. Tetapi dalam sekejap mata sudah pulih kembali seperti sedia kala. Orang-orang yang ada di tempat itu tidak memperhatikan, tetapi Tao Ling yang sejak tadi berkali-kali melirik abangnya sempat melihat perubahan wajah Tao Heng Kan sekilas.
“Ma, tampaknya koko takut menghadapi orang itu,” bisik Tao Ling kepada ibunya.
Sam Jiu Kuan Im Sen Cing membentak dengan suara keras.
“Jangan banyak bicara! Masalah yang kau timbulkan barusan apa masih belum cukup?”
Tao Ling menjulurkan lidahnya dan tidak berani mengatakan apa-apa lagi. Tao Heng Kan menoleh kepada ayahnya.
“Heng Kan, Lie heng mempunyai kegembiraan untuk bermain-main denganmu, biarlah kau temani barang beberapa jurus!” perintah Tao Cu Hun.
Tao Heng Kan menganggukkan kepala.
“Tia, pinjam pedang Hek Pek Kiam-mu (pedang hitam putih),” ujar Tao Heng Kan.
Tao Cu Hun melirik sekilas ke tengah arena yang akan dijadikan ajang pertandingan. Dia melihat tangan Li Po menggenggam sebuah pedang yang berkilauan. Tidak diragukan lagi pedang itu pedang pusaka. Apabila menghadapinya dengan pedang biasa, putranya pasti akan mengalami kerugian.
Meskipun hatinya enggan memperlihatkan Hek Pek Kiamnya di depan umum, tapi dalam keadaan seperti sekarang ini mau tidak mau dia harus meminjamkannya kepada putranya.
Dia mengulurkan tangannya mengeluarkan pedang berikut sarungnya, lalu diletakkannya di atas meja.
“Heng Kan, gunakanlah bagian tubuh pedang, jangan menggunakan ujungnya!”
Lie Yuan yang duduk di sebelahnya memperdengarkan suara tawa yang dingin. Tao Heng Kan segera meraih pedang dari atas meja dan Sret! Pedang itu dihunusnya. Tadinya orang-orang yang berkumpul di taman bunga itu mendengar nada perkataan Tao Cu Hun yang berat sekali, mereka mengira Hek Pek Kiam pasti merupakan sebatang pedang pusaka yang langka pula. Namun setelah Tao Heng Kan menghunus pedang itu, hampir saja semuanya tertawa geli.
Rupanya panjang pedang itu tidak lebih dari tiga ciok. Lebarnya malah selebar empat jari tangan. Sungguh berbeda dengan pedang umumnya.
Bagian tubuh pedang berwarna hitam pekat. Tidak menyorotkan sedikit sinar pun. Sedangkan bagian atasnya berwarna putih kelabu, seperti logam biasa yang belum diasah.
Tidak ada keistimewaannya sama sekali. Kalau dibandingkan dengan pusaka yang ada di tangan Li Po, sungguh bagaikan bumi dan langit.
Hanya Kuan Hong Siau yang mengetahui bahwa nama besar Tao Cu Hun bukan sekedar nama kosong. Meskipun Hek Pek Kiamnya tidak menunjukkan keistimewaan apa-apa, tapi kemungkinan juga merupakan sebatang pedang pusaka yang langka.
Sebentar lagi apabila dalam pertandingan ada salah satu pihak yang mengalami cedera, tentu hatinya menjadi tidak enak, karena bertolak belakang dari tujuannya semula. Dia pun mengelus-elus jenggotnya sambil tertawa lebar.
“Keponakan berdua, pertandingan ilmu untuk melihat kehebatan masing-masing adalah hal yang lumrah. Jangan sampai ada yang melukai lawannya, batasnya hanya boleh saling menutul saja!” kata orang tua itu.
Li Po segera menyahut dengan lantang.
“Keponakan akan menurut, terima kasih atas perhatian Kuan cianpwe!”
Tao Heng Kan tidak menyahut sepatah kata pun. Perlahan-lahan dia maju ke depan sejauh belasan tindak. Sepasang matanya tidak berkedip sekali pun dan memandang Li Po lekat-lekat.
Kedua pemuda itu berjalan ke depan sampai jarak mereka tinggal lima enam langkah. Tangan Li Po terangkat ke atas, dengan perlahan-lahan dia menggerakkan pedangnya. Gagang pedang berada di sebelah bawah. Kedua jari tangannya yang Iain lurus ke samping. Ini merupakan jurus pembukaan dari Pat Kua Kim Gin Kiam.
Pat Kua Kiam Hoat sendiri berasal dari sumber Pat Kua, semuanya terdiri dari delapan jurus. Setiap jurusnya mempunyai puluhan perubahan yang mempunyai keistimewaan masing-masing.
Gerakannya lebih memberatkan kelincahan tubuh. Kalau ditinjau dari dunia bulim saat ini, nama Pat Kua Kim Gin Kiam sudah terkenal di seluruh dunia.
Jurus pembukaan yang dikerahkan oleh Li Po tampaknya sederhana saja, tetapi apabila sudah dimainkan setiap perubahan akan mengejutkan.
“Silakan!” Li Po membentak dengan suara Iantang.
Tubuh Tao Heng Kan agak limbung, kakinya sempat terhuyung-huyung sampai tiga langkah, tetapi tidak sampai terjatuh. Akhirnya dia dapat berdiri dengan tegak.
“Silakan!” bentak Tao Heng Kan pula.
Li Po segera menggerakkan sebelah kakinya ke depan, pedang di tangannya bergetar kemudian menjulur ke luar. Yang menjadi sasarannya pundak sebelah kanan Tao Heng Kan. Gerakannya gesit dan indah.
Tampak Tao Heng Kan menggeser pundaknya ke kiri sedikit dan bagian tubuh pedang emas itu pun melesat melalui samping pundaknya. Tubuh Tao Heng Kan membungkuk sedikit.
Jurus yang digunakannya tadi langsung diubah, sekarang dia mengerahkan jurus Kakek Tua Menunggang Keledai.
Pat Sian Kiam Hoat sebetulnya merupakan perubahan dari Ilmu Delapan Dewa Mabuk. Jurus ilmu pedang memang mengandung banyak keanehan membuat orang sulit memahaminya. Dibandingkan dengan Pat Kua Kim Gin Kiam Hoat, kedua-duanya mempunyai keistimewaan masing-masing.
Begitu jurus Kakek Tua Menunggang Keledai dikerahkan, tampak Tao Heng Kan merebahkan tubuhnya di atas tanah seperti orang mabuk, pedangnya menyerang dari bawah ke atas.
Hati Li Po agak mendongkol. Diam-diam dia berpikir dalam hati.
“Pedang di tanganku ini dapat membelah logam apa pun seperti menebas tanah. Mengapa aku tidak mengutungkan pedangnya dulu baru berusaha meraih kemenangan?”
Setelah mengambil keputusan demikian, pedang emas di tangannya segera digerakkan. Cahaya seperti pelangi berpijaran, dengan jurus Tegak Ke Atas, Lurus Ke Bawah, serta menggunakan unsur Pat Kua, pedangnya meluncur ke depan tubuh Tao Heng Kan. Dengan demikian dia berhasil menahan serangan pemuda itu.
Sementara Li Po dan Tao Heng Kan mulai bergebrak, orang-orang yang berkumpul di tempat itu memperhatikan dengan menahan nafas. Meskipun mereka baru bertanding sebanyak tiga jurus, tetapi kehebatan yang terkandung di dalam setiap jurus yang mereka kerahkan bukan dapat dipahami oleh setiap orang.
Mungkin hanya pasangan suami istri Lie Yuan, Tao Cu Hun, dan Kuan Hong Siau serta beberapa lainnya yang dapat melihat dengan jelas.
Mereka mempunyai perasaan yang sama, jurus yang dilancarkan oleh Li Po terlalu hebat. Apabila Tao Heng Kan tidak sempat menghindarinya, kemungkinan dadanya akan tertancap pedang emas Pat Kua Kiam itu.
Bersambung ………